Selasa, 09 Mei 2023

 Tak lagi mampu melangkah. Dalam samar kulihat ada sedikit cahaya menyembul di balik pintu bercat coklat. Rasa bergemuruh campur aduk tidak menentu. Apakah yang akan terjadi nanti? Hanya satu yang terbersit, asa. Menggelora mendebarkan hingga menendang dada terasa begitu sesak. Ya, memang harus dijalani. Mencoba menyesuaikan dengan ritmenya.

Meski harus keluar dari zona nyaman. Mungkin akan kujadikan hal ini sebagai pijakan untuk zona nyamanku berikutnya. Yang akan lebih memberi banyak keuntungan. Meski berat tapi semangat tak boleh padam. Meski lelah pikiran, tapi bersyukur masih bisa belajar banyak hal. Jadi tidaklah rugi kurasa.

Sudah cukup tubuh ini terasa nyaman. Ya, harus sedikit dipaksa untuk melangkah. Nanti jika sudah terbiasa juga akan nyaman. Tak akan bisa ditolak. Untuk sebuah kenyamanan yang sedikit tertunda. Ada sebuah pelukan yang menenangkan.Pelukan mahal yang pernah merengkuh tubuhku. Terasa nyaman bahkan hingga tak bisa terkatakan lagi. Hanya PRIBADI ini yang bisa mengalahkanku.

Jumat, 05 Mei 2023

 

KARYA TERINDAH

Bagaimana bisa aku melupakan wajah itu

Bagai sebuah patung porselen yang halus putih tanpa noda sedikitpun

Ada ya manusia seperti itu?

Semua mata tertuju kepadanya

Memang demikian dia diciptakan

Untuk memuaskan mata 

Namun kenyataannya bila sudah berakhir masanya

Dia akan dilupakan begitu saja

Ya, karya terindah akan dibuang seperti sampah

Tidak ada lagi yang memperdulikannya

Karena semua akan tergantikan yang baru

Yang lebih indah dan sempurna menurut pemandangan mereka

Dan akhirnya karya terindah itu pudar begitu saja

Menjadi manusia kembali

Menjalani hari-harinya sebagai manusia

Sebagaimana mestinya.





 Pembelajaran Perkembangan Teknologi Komunikasi

Kelas III Tema 7 Subtema 3

Mading dengan tema "Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Ponsel"


 Hasil Karya Anak-Anak Kelas III

Seterang apakah kamu? 
Bisakah kegelapan mengalahkanmu? 
Betapa ponggahnya kamu ditengah kerapuhan pribadimu. 
Sungguh aku tidak mengerti. 
Harusnya kau malu pada lilin itu. 
Tapi apalah dayaku. 
Tak mampu menembus tembok hatimu yang kian lama kian menebal.
 Membuat kebenaran terkunci rapat.
Sementara keresahan perlahan menjalar di setiap aliran darah.
yang semakin lama terasa semakin mencekikmu.

Kamis, 04 Mei 2023

Tertegun akan sebuah keindahan yang tergelar didepanku. Diantara syahdunya udara dingin berkabut diujung bukit. Semilir angin menyapu luas wajahku dan menyibak rambut yang bermain-main di atas mata. Terlihat sebuah awan tipis berarak hendak berlari mengejar sang bayu. Sementara di timur, mentari masih engan berpendar. Sinarnya pun masih redup. Di tempat aku berdiri, tampak hijau rumput tipis tertata menutupi tanah merah basah. Rupanya embun sudah lama melandai di atasnya. Tak terukur bentangannya di kanan dan kiri. Sepanjang jalan setapak nampak bunga-bunga kecil bertahan hidup. Ditengah gempuran serangga-serangga nakal yang hendak menggagahinya. Gugusan gunung diantara hijaunya bukit basah, masih tertutup kabut yang semakin lama semakin memudar. Kicauan burung masih terlalu muda terdengar memecah kesunyian. Gemericik air sungai dengan riak kecil menambah hangatnya melodi yang tercipta. Tak ada mahakarya seindah ini. Sungguh alamku Indonesia surga dunia.
Biasan lembayung menapak dimukaku. Menyebar seiring kedipan mata. Hati yang telah menggelepar terkurung jingga. Bosan melihat garis-garis itu. Apakah aku juga akan hanyut? Permainan ini masih berputar mengintari inginku. Mempengaruhi warna agar tersembunyi dibalik ketiak karang hitam yang masih terlihat mengendap. Siap menyerang saat kesadaran terlelap, terus tenggelam dalam nyanyian senyap. Hanya gema menjalar bergetar, bergumam diantara bisikan bintang, berenang dalam warna yang merayu. Tak ada isi yang kupikir akan menghampiriku. Kosong yang penuh dengan gurat. Angkuh dalam kesederhanaan yang tersembunyi. Apakah aku terlalu berlebihan? Saat angin melihat sibakan awan ditengah gersangnya rumput, batupun berbisik padanya lewat kelam warna. Perbedaan antara mereka tidak membuat suatu jarak. Kekakuan akan pribadi yang berlainan arah. Memang perbedaan sulit bersatu. Tak mampu menentang arus yang semakin deras mengalir. Cinta terkadang sebuah keceriaan tapi juga air mata. Penyesalan menyesak dalam lingkaran asmara, mendayu dan memabukkan. Aku tak dapat mengelak dalam hasrat jiwaku yang masih sayup-sayup mendambanya. Kasih ini masih tersisa untuk merangkulnya kembali. Bersama leburan perbedaan yang akan menyeret semua awan. Menghilang dari garis-garis cakrawala. Harapku mengarah untuk membuat lorong kebahagiaan. Tatkala hatinya sebentar mulai kembali menoleh padaku, aku mulai menemukan jiwaku. Menyambut keluguan rasa yang ditujukan untuk cawan cintaku. Perbedaan memaksaku menjadi seorang asing. Cintanya berkelam kabut hitam dan putih. Lembayung asmara! Aku harus memahami ini! Untung aku punya cinta!
Kedekatan melekat dalam jalinan manis. Serupa jarring yang hampir tanpa celah. Diantara bahasa manis menggeterkan dan diantara kesibukan hati. Berusaha untuk terus menyematkan putih. Begitu bahagia dan lembut, walau sederhana tapi penuh makna. Berlomba menyelamkan di dalamnya. Senandungkan dalam desah dan langkah. Nikmati dan rasakan betapa syahdunya! Sempurnakan hidupmu walau tak begitu sempurna! Setidaknya bisa menyejukkan dengan sentakan beningnya. Serupa sungai di waktu kering dan hujan pada musim kemarau. Biar nafasmu penuh cinta! Biar dunia ditumbuhi bunga kasih! Hijau dengan kesejukan, biru dengan kedamaian dan disempurnakan oleh semarak tawa.

 Tak lagi mampu melangkah. Dalam samar kulihat ada sedikit cahaya menyembul di balik pintu bercat coklat. Rasa bergemuruh campur aduk tidak ...